Kinerja perusahaan dimulai dari kemampuan suatu perusahaan untuk menciptakan proses yang efektif dan efisien. Menurut sistem produksi Toyota, terdapat tujuh pemborosan, antara lain Overproduction ( Produksi berlebihan ), Waiting ( Menunggu ), Transportation ( Transportasi ), Inappropriate Processing ( Proses yang tidak perlu ), Unnecessary Inventory ( Persediaan yang tidak perlu ), Unnessary Motion ( gerakan yang tidak perlu ), dan Defect ( Kecacatan ). ( Hine,2000,hal 9).
Penelitian dimaksud untuk mengidentifikasi pemborosan yang terjadi dan mereduksi pemborosan tersebut sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi. Pada proses produksi difokuskan pada perubahan dari log kayu menjadi komponen. Proses terdiri dari tiga tahap, yaitu proses pembuatan log kayu menjadi papan dengan mesin sawmill, tahap kedua dengan mesin ricksaw yaitu proses pembuatan papan kayu menjadi komponen setengah jadi. Tahap terakhir yaitu dengan mesin radial yaitu proses pembuatan komponen setengah jadi menjadi komponen jadi.
Pada setiap proses terdapat quality control untuk mengecek cacat produksi yang ada sehingga mengurangi waste dengan menyingkirkan material cacat agar tidak diproduksi lebih lanjut. Dalam proses produksi CV. Citra Jepara, tidak terjadi overproduction waste karena produk yang dikerjakan adalah produk make to demand.
Cara yang dilakukan untuk mengurangi waste yaitu :
1. Forklift : Digunakan untuk memindahkan komponen yang jadi sehingga mengangkut dengan jumlah yang besar dengan waktu yang singkat.
2. Flatform Truck : Untuk memindahkan komponen setengah jadi yang tidak dapat digunakan lagi. Alat ini memengurangi tenaga angkut dan volume perpindahan komponen yang reject.
3. Handlift : Untuk memindahkan komponen yang sudah jadi dan siap digunakan.
4. Motion Waste : Para pekerja sudah memiliki jobdesk masing-masing sehingga tidak mengakibatkan motion waste.
5. Inventory Waste : Perusahaan menerapkan safety stock untuk mencegah stockout atas permintaan konsumen.
Entitas yang ada dalam proses produksi CV. Citra Jepara dimulai dari input produksi hingga output produksi. Adapun alternatif yang dapat digunakan untuk menciptakan sustainable manufacturing pada CV. Citra Jepara, yaitu :
1. Mengurangi penggunaan bahan utama yang tidak berkelanjutan dengan penggunaan barang pengganti yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
2. menurunkan tingkat waste dari proses produksi dengan meningkatkan efisiensi proses produksi.
3. Memperhatikan keamanan dan kesehatan pekerja, komunitas dan pengguna.
4. Meningkatkan peran perusahaan dalam upaya sustainable manufacturing.
Kesimpulan
Banyaknya pemborosan material dengan membuang bahan cacat dan sisa serbuk kayu dapat dikurangi dengan down size, finger joint dan pres. Sisa produksi kayu juga dapat digunakan untuk bahan pembuatan pensil, cinderamata dan sebagai material dari alat masak, makanan yang berbahan dasar kayu. Sehingga apa yang dimaksud sustainable manufacturing yang memperhatikan lingkungan, masyarakat dan ekonomi dapat dilakukan bersama.
Daftar Pustaka
Pujotomo Darminto, Raditya Armanda. Penerapan Lean Manufacturing untuk Mereduksi Waste di Industri Skala UKM. ejournal.undip.ac.id. J@TI Undip, Vol VI, No 3. September 2011.
kimia dan pengetahuan lingkungan industri
Kamis, 07 Januari 2016
Selasa, 05 Januari 2016
Dampak Industri di Lingkungan sekitar
Lingkungan merupakan suatu hal
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini disebabkan dimana
seseorang hidup maka akan tercipta lingkungan yang berbeda dan sebaliknya.
Akhir – akhir ini sering terjadi pengrusakan lingkungan oleh manusia dengan
alasan pemanfaatan materi yang lebih. Secara tidak langsung akan menyebabkan
terkikisnya lingkungan dan mengancam pada kelangsungan hidup manusia. Proses
pemanfaatan sumber daya dilingkungan pun sangat beraneka ragam. Namun tak
jarang hal tersebut menimbulkan dampak tersendiri bagi lingkungan sekitar.
Salah satu sumber daya yang kita
miliki yaitu minyak diperut bumi. Namun cadangan minyak diperut bumi semakin
menipis dikarenakan penggunaannya yang terus meningkat. Sedangkan bahan bakar
fosil ini tergolong yang tidak terbarukan (Unrenewable). Keterbatasan ini
membuat pemerintah dan semua pihak dibidang industri yang sangat bergantung
pada penggunaan minyak bumi mencari bahan alternative, yaitu dengan tanaman
yang disebut biomassa.
Salah satu contohnya yaitu Pabrik
Gula yang mengatasi krisis energi dan masalah limbah pabrik gula khususnya yang
berupa partikel debu. Hal ini dilakukan dengan cara membuat partikel debu
menjadi briket.
![]() |
| Gambar Bentuk Briket |
Pada Pabrik gula, bahan bakar boiler yang digunakan terdiri dari bahan bakar cair yang menggunakan residu dan bahan bakar padat yang memanfaatkan ampas tebu sisa penggilingan yang dibuat dengan campuran perekat lempung dan gliserin dinamakan briket bioarang.
![]() |
| Briket sebagai bahan bakar Alternatif |
Adapun batu kapur yang merupakan bahan bakar galian golongan C yang banyak digunakan dalam proses industry maupun bangunan.Contohnya yaitu penambangan di kecamatan Nusa Penida yang hanya menggunakan alat sederhana, namun masalah lingkungan yang ditimbulkan sama-sama merugikan. Dikupasnya tanah penutup pada penambangan batu kapur akan membuat struktur dan tekstur tanah mengalami kerusakan. Kerusakan ini membuat tanah tidak mampu menyimpan dan meresap air pada musim hujan. Sehingga tanah menjadi padat dan keras pada musim kemarau sehingga sangat sulit untuk diolah yang secara langsung berdampak pada pengolah tambang.
Penyelidikan mengenai ekspolitasi, pengolahan/pemurnian dan pengangkutan dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan lingkungan hidup yang cukup besar (Katili,1983:135). Kegiatan penambangan batu kapur secara terus menerus akan menyebabkan banyak lubang atau cekungan yang membuat permukaan tanah tidak rata. Vegetasi penutup tanah dihilangkan yang berpengaruh pada morfologi daerah sekitar pertambangan. Udara pun akan menjadi kotor, hal ini disebabkan debu tambang yang dihasilkan dari kegiatan penambangan yang nantinya akan menimbulkan beberapa jenis penyakit atau gangguan pada paru-paru (Supardi,1984:52).
Usaha yang dilakukan untuk penanggulangan kerusakan yaitu dengan menimbun lubang bekas tambang dengan tanah bekas galian dan mendatangkan tanah dari lain tempat serta menanam tanaman yang cocok didaerah tersebut. Serta penggunaan penutup hidung yang sangat dianjurkan untuk semua penambang maupun penduduk sekitar tambang dikarenakan udara yang tidak bersih didaerah tambang.
Berdasarkan contoh penelitian
tersebut dan tentunya setiap jenis kegiatan untuk mendapatkan materi sumber
daya yang ada di lingkungan sekitar kita sangat dianjurkan untuk tidak
membiarkan dampak negative yang berkepanjangan. Para pelaku industry harus
membuat solusi dan penanggulangan dari setiap dampak yang ada agar tidak
merugikan pihak lain. Karena keberhasilan industry bukan hanya dinilai dari
seberapa banyak hasil yang didapat tetapi seberapa banyak solusi yang diberikan
untuk lingkungan sekitar.
Daftar Pustaka :
I Gede Algunadi,dkk. 2013. Analisis Dampak Penambangan Batu Kapur
terhadap Lingkungan Di Kecamatan Nusa Penida. http://ejournal.undiksha.ac.id, Vol
3, No1, 2013.
Raharjo Samsudi. 2013. Pembuatan Briket Bioarang dari Limbah atau
Ketel, Jarak dan Glliserin. http://jurnal.unimus.ac.id.
Traksi Vol 13 No 1, Juni 2013.
Komposisi udara
Komposisi Udara - Kimia
View more presentations or Upload your own.
atau kunjungi laman berikkut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368606/Komposisi-Udara---Kimia
atau kunjungi laman berikkut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368606/Komposisi-Udara---Kimia
Urgensi Air
URGENSI AIR - Kimia
View more presentations or Upload your own.
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368607/URGENSI-AIR---Kimia
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368607/URGENSI-AIR---Kimia
GLOBAL WARMING
View more presentations or Upload your own.
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368605/GLOBAL-WARMING
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368605/GLOBAL-WARMING
Pendidikan dan Pengetahuan Lingkungan
Pendidikan dan Pengetahuan Lingkungan
View more presentations or Upload your own.
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368604/Pendidikan-dan-Pengetahuan-Lingkungan
atau kunjungi laman berikut ini http://www.slideboom.com/presentations/1368604/Pendidikan-dan-Pengetahuan-Lingkungan
Kamis, 22 Oktober 2015
Peningkatan Kinerja Membran Selulosa Asetat Untuk Pengolahan Air Payau Dengan Modifikasi Penambahan Aditif dan Pemanasan
A. LATAR BELAKANG
Dalam
kehidupan sehari-hari, untuk memisahkan sebuah larutan bisa dilakukan dengan
berbagai macam cara. Diantaranya dengan cara penyaringan, ditambahkan proses
kimia dan juga dengan cara di pisahkan oleh lapisan atau sebuah membran. Untuk
jenis larutan itu sendiri banyak ragamnya, seperti larutan minyak yang sudah
tercampur oleh air, larutan kimia HCL yang tercampur oleh H2O, ataupun larutan
alami seperti air payau. Dalam jurnal berikut berjudul“Peningkatan Kinerja Membran
Selulosa Asetat Untuk Pengolahan Air Payau Dengan Modifikasi Penambahan Aditif
dan Pemanasan”.Sebagaimana
kita ketahui, membran merupakan salah satu alternatif teknologi pengolahan air
dengan prinsip filtrasi yang sedang banyak berkembang. Adapun jenis polimer
yang umum digunakan dalam pembuatan membrane adalah Selulosa Asetat.Bahan Aditif
seringkali ditambahkan untuk memperbaiki struktur morfologi membran. Salah satu
tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat Membran Asimetrik mengguankan
polimer selulosa asetat serta mengkaji pengaruh aditif dan pemanasan terhadap
struktur morfologi dan kinerja membrane selulosa asetat untuk pengolahan air
payau. Penelitian pembuatan membran selulosa asetat untuk pengolahan air payau
ini dilakukan dengan variasi PEG sebesar 1%, 3% dan 5% berat serta suhu dan
waktu pemanasan pada 60oC dan 70oC selama 5, 10 dan 15
detik.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari
penelitian yang telah dilakukan, maka telah hasil yang didapat yaitu membrane
asimetrik selulosa asetat dapat dihasilkan dengan metode dry/wet phase inversion, dimana konsentrasi PEG
berpengaruh terhadap pembentukan pori membran. Dengan ada nya variasi
konsentrasi PEG, dimana semakin besar konsentrasi PEG yang ditambahkan
mengakibatkan ukuran pori semakin membesar. Begitu juga sebaliknya, semakin
sedikit konsentrasi PEG yang diberikan maka ukuran pori membran semakin kecil.
Beda yang dihasilkan dari percobaan dengan cara diberikan pemanasan kepada
membran. Perlakuan pemanasan yang diberikan pada membrane berpengaruh terhadap
pembentukan pori membrane, dimana semakin besar suhu pemanasan dan semakin lama
waktu pemanasan menyebabkan ukuran pori semakin kecil sehingga nilai fluks
semakin kecil sementara nilai rejeksi semakin besar.
C. PENELITIAN SELANJUTNYA
Setelah
dilakukan penelitian tersebut diatas, maka timbul pemikiran untuk melanjutkan
atau membuat penelitian lain dengan dasar latar belakang yang sama, yaitu
pengolahan air payau tetapi dengan metode yang lainnya. Salah satu ide untuk melakukan penelitian lain yaitu “Pengolahan Air Payau Metode
Osmosis Dengan Menentukan Variasi Tekanan Pada Bagian Membran Semipermeabel”. Keistimewaan dari proses ini adalah mampu nyaring molekul yang lebih
besar dari molekul air.
Langganan:
Komentar (Atom)



